Sejarah Pengukuran Intelegensi Bagian 1


Pustaka Psikologis – Bila kita bicara mengenai bidang pendidikan dan pekerjaan itu menyangkut pengukuran intelegensi. Pengukuran intelegensi dilakukan kepada seseorang sebelum mereka memasuki istansi tertentu.

Hal ini dirasa sangat penting karena setiap individu itu memiliki perbedaan. Dengan perbedaan tersebut maka timbulah kesadaran untuk memperlakukan manusia sebagai idividu sesuai dengan kapasitas dan potensinya masing-masing.

Pengukuran intelegensi pada seseorang sudah ada sejak zaman dahulu. Ada berbagai usaha-usaha pengukuran karakteristik mental yang telah dilakukan. Sepanjang waktu pengukuran tersebut mengalami modifikasi dan perkembangan.

Pada abad XIV, di negeri Cina telah berlangsung usaha untuk mengukur kompetensi para pelamar jabatan sebagai pegawai negara. Untuk dapat diterima sebagai pegawai, para pelamar harus mengikuti ujian tertulis mengenai pengetahuan Cofucian classics dan mengenai kemampuan menulis puisi hingga komposisi karangan.

Ujian tersebut dilakukan selama sehari semalam lamanya. Adapun untuk tempat berlangsungnya ujian tersebut berada di tingkat disrik/daerah. Hanya sekitar 7% pelamar yang biasanya lulus ujian tingkat distrik tersebut. Kemudian mereka akan melanjutkan ujian selanjutnya berupa kemampuan menulis prosa dan sajak.

Untuk ujian berupa kemampuan menulis prosa dan sajak hanya kurang dari 10% dari sisa peserta yang lulus. Akhirnya barulah diadakan ujian tingkat akhir di Peking dimana hanya sekitar 3% saja yang lulus dari sekian jumlah peserta terakhir.

Dengan demikian perbandingannya yaitu hanya 5 diantara 100.000 pelamar yang lulus tes dari ketiga tahap ujian tersebut.  Mereka yang telah lulus semua ujian pada akhirnya akan memperoleh status mandarin. Namun tidaklah jelas pekerja kantor apa saja yang dapat dipegang oleh para lulusan yang telah berstatus mandarin itu.

Apabila status mandarin itu merupakan suatu lisensi untuk bekerja dimana saja. Tentu mata ujian yang berupa pengetahuan sastra dan kemampuan menulis prosa tidak merupakan prestasi yang cukup baik. Karena diferensiasi kemampuan pada jenis pekerjaan yang berbeda tidaklah dapat dilakukan dengan hanya mengujikan satu bidang kemampuan saja.

Jika jenis pekerjaan yang dapat dimasuki oleh para mandarin itu sangat berkaitan dengan kemampuan sastra dan mengarang. Maka hal-hal yang telah dilakukan para penguasa CIna itu merupakan tindakan yang tepat. Hal ini dikarenakan prinsip pengukuran yang digunakan telah sesuai dengan kebutuhan.

Barulah pada awal abad XIX ujian semacam ini mulai dihilangkan sejalan dengan pesatnya kemajuan universitas-universitas (DuBois, 1970 dalam Willerman, 1979). Usaha-usaha pengukuran intelegensi berkembang dalam kurun waktu kurang lebih serempak di Amerika Serikat dan di Perancis.

Mungkin bisa dibilang suatu kebetulan bahwa awal perkembangan pengukuran mental berpusat pada pengukuran kemampuan yang bersifat umum. Kemampuan yang bersifat umum tersebut sekarang ini kita kenal dengan intelegensi.

Di Amerika Serikat, usaha pertama tersebu dimulai oleh tokoh pencetus istilah “tes mental”. Tokoh tersebut adalah James MCKeen Cattell (1860-1944). Dengan menerbitkan bukunya Tests and Measurements di tahun 1890.

Buku ini berisi rangkaian tes intelegensi yang terdiri dari sepuluh jenis ukuran (Anastasi, 1967; Davidoff, 1976; Willerman,1979). Kesepuluh macam ukuran tersebut merupkan seri pertama yang dibuat di labolatorium psikologi The University of Pennsylvania.

Dimana kesepuluh jenis pengukuran tersebut boleh dicobakan kepada siapa saja yang bersedia dan kebetulan dating disana. Kesepuluh macam ukuran tersebut akan dibahas penjelasannya sebagai berikut.

1. Dynamometer Pressure, yaitu ukuran kekuatan tangan menekan pegas yang dianggap sebagai indicator aspek psikofisiologis.

2. Rate of Movement, yaitu ukuran tempo gerakan atau kecepatan gerak tangan dalam satuan waktu tertentu yang dianggap juga sebagai memiliki komponen mental di dalamnya.

3. Sensation Areas, yaitu pengukuran jarak terkecil diantara dua tempat yang terpisah di kulit yang masih dapat dirasakan sebagai dua titik berbeda.

4. Pressure Causing Pain, yaitu pegukuran yang dianggap berguna dalam diagnosis terhadap penyakit-peyakit syaraf dan dalam mempelajari status kesadaran abnormal.

5. Least Noticeable Differece in Weight, yaitu pengukuran perbedaan berat yang terkecil yang masih dapat dirasakan oleh seseorang. Ukuran ini dianggap sebagai suatu konstanta psikologis.

6. Reaction Time for Sound, yaitu mengukur waktu antara pemberian stimulus dengan timbulnya reaksi tercepat. Dalam tes ini stimulus bersifat auditori dan menghendaki respon gerakan menekan suatu kunci telegraf.

7. Time of Naming Colors, yang dimaksudkan sebagai ukuran terhadap proses yang lebih “mental” daripada waktu-reaksi yang dianggap reflektif.

8. Bisection of a 50-centimeter Line, yang dianggap sebagai suatu ukuran terhadap akurasi “space judgement”

9. Judgement of 10-second Time, yang dimaksudkan sebagai ukuran akurasi dalam  “time judgement”. Tes ini meminta subjek memperkirakan jarak waktu 10 detik tanpa bantuan alat apapun.

10. Number of Letters Repeated Upon Once Hearing, yang dimaksudka sebagai ukuran terhadap perhatian dan ingatan. Tes ini meminta subjek mengulang menyebutkan huruf-huruf yang hanya disebutkan sekali.

Seperti terlihat diatas bahwa tes dalam rangkaian yang dirancang Cattell dimaksudkan untuk mengukur intelegensi. Syarat dengan ukuran aspek sensori-motor (indera-gerak) dan fisiologis.

0 Response to "Sejarah Pengukuran Intelegensi Bagian 1"

Post a Comment