Gangguan Kepribadian (Definisi, Penyebab, Jenis, Gejala, Intervensi)


1. Gangguan Kepribadian
Kondisi yang menyebabkan pengidapnya memiliki pola pikir dan perilaku yang tidak sehat dan berbeda dari rata-rata orang biasanya. Pengidapnya juga sulit untuk merasakan, memahami, atau berinteraksi dengan orang lain. Tentu saja bisa menyebabkan masalah dalam situasi sosial.

2. Penyebab Gangguan Kepribadian

2.1 Genetik
Gangguan kepribadian umumnya dialami oleh orang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan riwayat gangguan yang sama. Misalnya gangguan Skizopital terjadi karena ada keluarga dengan riwayat Skizofrenia.

2.2 Temperamental
Anak-anak yang semasa hidupnya sering mengalami luka traumatik dan ketakutan  cenderung memiliki gangguan kepribadian menghindar. 

2.3 Biologis
Adanya kelainan pada komposisi kimia di dalam otak. Kadar serotonin yang tinggi akan menghasilkan perubahan dramatik pada beberapa karakteristik kepribadian.

2.4 Psikoanalitik
Sigmund Freud menyatakan bahwa sifat kepribadian berhubungan dengan fiksasi pada salah satu stadium perkembangan psikoseksual. Fiksasi pada stadium anal, yaitu anak yang berlebihan atau kurang pada pemuasan anal dapat menimbulkan sifat keras kepala, kikir, dan sangat teliti.

3. Jenis-jenis Gangguan Kepribadian

Kluster A
“Gambarannya aneh, menyendiri, dan eksentrik. (paranoid, skizoid, skizotpal)”

A.1 Skizopital
Selain tingkah laku yang aneh dan cara bicara mereka yang tidak wajar, penderita gangguan kepribadian jenis ini kerap terlihat cemas atau tidak nyaman dalam situasi sosial. Penderita juga kerap berkhayal, misalnya percaya bahwa dirinya memiliki kekuatan telepati yang mampu memengaruhi emosi dan tingkah laku orang lain atau percaya bahwa suatu tulisan di koran adalah sebuah pesan tersembunyi bagi mereka.

A.2 Skizoid
Ciri utama penderita gangguan kepribadian jenis ini adalah sifat yang dingin. Mereka seperti sukar menikmati momen apa pun, tidak bergeming saat dikritik atau dipuji, dan tidak tertarik menjalin hubungan pertemanan dengan siapa pun, bahkan dengan lawan jenis. Mereka cenderung penyendiri dan menghindari interaksi sosial.

A.3 Paranoid
Ciri-ciri utama gangguan kepribadian jenis ini adalah kecurigaan dan ketidakpercayaan terhadap orang lain secara berlebihan, termasuk pada pasangan mereka. Mereka selalu takut bahwa orang lain akan memanipulasi atau merugikan mereka, dan mereka takut pasangan mereka akan berkhianat.

Kluster B 
“Gambarannya dramatik, impulsif, dan tak menentu. (borderline, anti sosial, narsistik, histrionik)”

B.1 Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline)
Orang yang menderita kondisi ini biasanya memiliki emosi yang tidak stabil dan memiliki dorongan untuk menyakiti diri sendiri. Penderita gangguan ini juga merasa kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain. Mereka merasa tidak dianggap baik dalam lingkungan keluarga maupun di masyarakat.

B.2 Gangguan Kepribadian Antisosial
Orang yang menderita kondisi ini kerap mengabaikan norma sosial yang berlaku dan tidak memiliki rasa simpati terhadap orang lain. Penderita cenderung menyalahkan orang lain atas masalah yang terjadi dalam hidup mereka. Mereka gemar mengintimidasi orang lain dan tidak menyesali perbuatan mereka. Mereka juga tidak mampu mengendalikan amarah dan mempertahankan hubungan.

B.3 Gangguan Kepribadian Narsistik
Orang yang menderita kondisi ini merasa yakin bahwa dirinya lebih istimewa dibandingkan orang lain. Mereka cenderung arogan dan terus-menerus mengharapkan pujian dari orang lain. Mereka akan membanggakan dan melebih-lebihkan prestasi yang dicapai. Ketika merasa ada orang lain yang lebih unggul daripada mereka, penderita gangguan kepribadian narsistik akan merasa sangat iri.

B.4 Gangguan Kepribadian Histrionik
Orang yang menderita kondisi ini biasanya terlalu mencemaskan penampilan, cenderung dramatis dalam berbicara, dan selalu mencari perhatian. Apabila menjalin hubungan pertemanan, penderita gangguan ini akan menganggap hubungan pertemanan tersebut sangat erat, meskipun orang lain menganggapnya tidak.

Kluster C
“Gambarannya cemas dan penuh ketakutan (menghindar, dependen, and obsesif-kompulsif)”

C.1 Gangguan Kepribadian Dependen 
Penderita kondisi ini akan merasa sangat tergantung pada orang lain dalam hal apa pun. Mereka tidak bisa hidup mandiri dan selalu diliputi rasa takut akan ditinggalkan orang lain. Saat mereka sedang sendiri, mereka akan merasa tidak nyaman dan tidak berdaya. Akibat ketergantungan yang berlebihan ini, penderita gangguan kepribadian dependen tidak akan bisa membuat keputusan dan mengemban tanggung jawab sendiri tanpa petunjuk dan bantuan orang lain.

C.2 Gangguan Kepribadian Menghindar 
Penderita kondisi ini sering menghindari kontak sosial, terutama dalam kegiatan baru yang melibatkan orang asing. Tidak sama seperti gangguan kepribadian skizoid, penghindaran ini dilakukan penderita karena mereka malu dan tidak percaya diri. Sebenarnya mereka ingin sekali menjalin hubungan dekat, namun mereka merasa tidak pantas berbaur dan khawatir mengalami penolakan.

C.3 Gangguan Kepribadian Obsesif-Kompulsif 
Orang yang mengalami kondisi ini bisa dikatakan “gila kendali”. Mereka sulit untuk bisa bekerja sama dengan orang lain dan lebih memilih untuk mengatur atau menyelesaikan tugasnya sendiri. Karena kepribadian mereka yang perfeksionis, sering kali mereka stres apabila hasil pekerjaan tidak sesuai dengan standar mereka yang tinggi.

4. Intervensi

4.1 Terapi Perilaku Kognitif 
Terapi ini bertujuan mengubah cara berpikir dan perilaku pasien ke arah yang positif. Terapi ini didasarkan kepada teori bahwa perilaku seseorang merupakan wujud dari pikirannya. Artinya, jika seseorang berpikiran negatif, maka perilakunya pun akan negatif, begitu pun sebaliknya.

4.2 Terapi Psikodinamik 
Terapi ini bertujuan mengeksplorasi dan membenahi segala bentuk penyimpangan pasien yang telah ada sejak masa kanak-kanak. Kondisi semacam ini terbentuk akibat pengalaman-pengalaman negatif yang dialami pasien di masa lalu.

4.3 Terapi Interpersonal 
Terapi ini didasarkan kepada teori bahwa kesehatan mental seseorang sangat dipengaruhi oleh interaksi mereka dengan orang lain. Artinya, jika interaksi tersebut bermasalah, maka gejala-gejala gangguan kepribadian bisa terbentuk. Karena itulah terapi ini bertujuan untuk membenahi segala masalah yang terjadi di dalam interaksi sosial pasien.

0 Response to "Gangguan Kepribadian (Definisi, Penyebab, Jenis, Gejala, Intervensi)"

Post a Comment